Abu Panton dan Syarah Muqaddimah Kitab Al Mahalli

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Haekal Afifa

Tiba-tiba saya teringat dengan surah (penjelasan) Almarhum Abu Panton (Abu Ibrahim Bardan) saat pertama membuka pengajian kitab Al Mahalli Karangan Al ‘Allamah Al Muhaqqiq Syaikh Jalaluddin al Mahalli di Balee Beton, Dayah Malikussaleh Pantonlabu.

Bagi Syaikh Jalaluddin al Mahalli, Kitab Al Mahalli adalah ‘ringkasan’ (على وجه لطيف) yang kecil. Bayangkan, Kitab Al Mahalli yang terdiri dari 4 Jilid itu bagi beliau adalah sesuatu yang kecil. Sesuatu yang sudah ada dalam pemikirannya sebelum ia menulisnya menjadi Kitab (هذا ما دعت إليه).

Bukan seperti penulis dan pengarang hari ini, para professor dan doktor yang harus melakukan wawancara terlebih dahulu dengan narasumber untuk mendapatkan informasi. Lantas, dengan itu mereka akhirnya mengambil gelar akademiknya.

Jika 4 jilid itu kecil bagi beliau, bagaimana dengan sosok dan pemikiran Imam Syafii yang menjadi tokoh bagi mazhab Imam Jalaluddin? Bayangkan, bagaimana ‘otak’ para sahabat Rasulullah? Makanya, Anda jangan pernah membayangkan Imam Syafi’i itu sama dengan Professor atau doktor anda! Pemikiran dan daya intelektual mereka hanya secuil debu jika dibandingkan dengan para imam dan sahabat Rasulullah. Di mana dengan secuil debu itulah, lalu mereka menyusun menjadi satu karya untuk mengambil gelar doktoralnya.

Bagi Syaikh Jalaluddin al Mahalli. Sebelum beliau mensyarah kitab Matan Minhaj, semua isi kitab Imam Nawawi dan Imam Rafi’i sudah beliau hafal. Pun demikian dengan pengarang Kitab Tuhfahtul Muhtaj al Syarhil Minhaj, Al ‘Allamah Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Hajar al Haitami (Ibnu Hajar al Haitami).

Bayangkan, Syaikh Ibnu Hajar menulis kitab tersebut 10 jilid dalam tempo 4 bulan dengan kondisi beliau yang sakit. Kita (khususnya di dayah) untuk mengkaji muqaddimah nya saja butuh waktu satu tahun!

Hari ini muncul kaum dan kelompok yang kapasitas intelektualnya hanya (tidak sampai) sebatas ujung kuku kaki para imam-imam tersebut, mengkritisinya, menfitnahnya, mencela dan mencaci-makinya! Bahkan, ia mengaku sama derajatnya dengan mereka? Mungkin, kotoran kalian pun tidak akan pernah sama dengan para imam tersebut, apalagi pemikirannya!

Bodohnya, mereka berpikir bahwa apa yang sudah ditulis dan mereka katakan, seakan-akan kita tidak pernah tau. Padahal Kita paham mereka bodoh, tapi kita juga masih menghormati mereka.

Maka orang yang mengaku dirinya alim, itulah orang yang tidak pernah mengenal orang alim. Bahkan mungkin mereka tidak pernah bertemu dengan orang alim.

[Ini adalah Ringkasan Surah Alm. Abu Panton Saat Memulai Muqaddimah Kitab Al Mahalli. Saya ringkas ulang agar kita selalu diberi hidayah Allah dalam menuntut Ilmu].

Semoga Allah Selalu Merahmati Beliau dan melapangkan kuburnya.  Amin. 

Haekal Afifa

Sumber tulisan: Facebook Haekal Afifa

Sumber Foto: Acehnus

Editor: Bagbudig

Haekal Afifa
About Haekal Afifa 4 Articles
Haekal Afifa adalah Ketua Institut Peradaban Aceh. Pegiat Tiroisme.