Aceh, Suwa Empire dan Pandemi Tahun 2200 Masehi

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Keberanian orang Aceh memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Hal ini bukan bualan belaka, tapi fakta yang bisa dengan mudah diverifikasi. Bahkan penulis-penulis Belanda pun mengakui keberanian ini yang kemudian melahirkan istilah Aceh Moorden alias Aceh pungo di era Perang Aceh melawan kolonial.

Di masa lalu, kompeni dan kompetai di Aceh tak ubahnya seperti daun-daun kering yang gugur di tengah gelora keberanian pejuang Aceh yang seperti api ~ yang siap membakar siapa saja.

Hikayat-hikayat keberanian ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Orang Aceh memiliki keberanian di atas rata-rata, demikian kalimat yang terus diulang oleh orang-orang Aceh kontemporer.

Namun demikian, di tengah keberanian yang menyala-nyala, sebagian masyarakat Aceh juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Bahkan ketika konflik RI-GAM masih berkecamuk sempat berkembang satu anekdot yang membuat aparat pemerintah berang.

Saat itu seorang personel tentara bertanya kepada orang Aceh, “Ada berapa orang GAM lewat di sini tadi?” Dengan penuh rasa percaya diri orang Aceh itu menjawab, “Tidak kubilang, Pak.” Mendengar jawaban demikian langsung saja muka orang Aceh itu bengkak petak-petak terkena tapak sepatu tentara.

“Kenapa tidak kamu bilang?” tanya si tentara. “Ramai kali Pak, tak sempat kubilang.” Lagi-lagi tapak sepatu mendarat di jidat orang itu. Dalam pikiran tentara saat itu, orang Aceh ini terlalu berani dan teguh pendirian seperti nenek moyangnya. Padahal orang itu bukan berani, tapi dia tidak paham bahasa Indonesia sehingga kalimat tidak kubilang alias hana kubileung (tidak kuhitung) pun mengudara tanpa sadar. Namun, oleh sebagian orang Aceh, bentuk ketidaktahuan ini justru dijadikan sebagai bukti keberanian. Di sinilah uniknya.

Baru-baru ini kononnya Aceh kembali dipuji. Bukan lagi soal perang melawan kolonial dan kemampuan bertahan dalam konflik, tapi terkait “keberhasilan” melawan wabah corona yang sedang menghantui dunia.

Kabarnya Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengapresiasi Aceh yang dianggap telah mampu menekan penyebaran virus corona sehingga kasus Covid-19 di Bumi Serambi Makkah sedikit. Bahkan sang jubir mengajak daerah lain meniru Aceh dalam penanganan corona. Tanpa babibu, langsung saja pujian ini menaikkan bulu kuduk sebagian orang Aceh, bukan sebab takut, tapi karena tersanjung dan lalu “naik daun”.

Tidak lama setelah pujian itu melayang di udara, beranda media sosial, selain penuh dengan ucapan selamat hari raya, juga sempat semak dengan berbagai analisis corona. Bahkan pujian ini juga sempat membuat beberapa oknum yang dulunya begitu gencar mengampanyekan tutup kedai kopi tiba-tiba berbalik arah dan dengan bangga berujar, “Biar pun kami disebut tungang dan kedai kopi tetap ramai, tapi tidak ada penambahan kasus corona di Aceh. Ini luar biasa.”

Secara lebih tegas, pujian jubir covid-19 terhadap Aceh akan dan telah berdampak pada munculnya euforia sebagian masyarakat Aceh ~ bahwa walau bagaimana pun Aceh tetap saja istimewa dan bahkan keramat. Karena itu dalam tafsiran yang lebih luas, penerapan physical distancing dan menghindari keramaian sudah tidak layak lagi diberlakukan di Aceh, sebab berdasarkan fakta-fakta, ledakan kasus corona tidak terjadi Aceh. Secara aktual hal ini juga dibuktikan dengan penuhnya masjid selama Ramadan ~ sampai-sampai tersiar di televisi berbahasa Arab ~ yang dengan sendirinya juga telah menjadi kebanggaan baru bagi sebagian masyarakat Aceh, di mana keramaian yang dilarang pihak kesehatan sama sekali tidak berdampak pada penyebaran wabah covid-19.

Lebih jauh, nantinya ketika suatu saat pandemi berlalu, dan di Aceh tidak ada lagi penambahan kasus, sementara orang-orang tetap berkumpul seperti biasa ~ maka keangkuhan demi keangkuhan akan semakin menggila.

Bagaimana tidak, meskipun sebagian orang tungang dan melanggar protokol kesehatan, tapi toh wabah tidak menyebar di Aceh. Nantinya kondisi ini, yang notabene adalah “kebaikan Tuhan” akan dijadikan sebagai argumen sembari menepuk dada bahwa Aceh adalah bangsa yang kebal terhadap wabah.

Di masa depan, katakanlah pada tahun 2200 Masehi, seandainya muncul wabah baru yang belum diketahui namanya, maka saat itu di Aceh akan lahir propagandis-propagandis hebat yang berseru kepada dunia, “Persetan dengan wabah. Dua ratus tahun lalu ketika dilanda corona, nenek moyang kami semuanya selamat tanpa harus pakai masker dan tetap berkerumun.”

Bukan tidak mungkin pada tahun 2200, gerakan suwa empire alias pasukan obor juga akan membeludak dan semakin mendapat tempat di Aceh dan mungkin akan dijadikan strategi utama melawan wabah. Beberapa tokoh di masa itu akan berseru, “Pada tahun 2020 nenek moyang kita sukses melawan wabah dengan suwa, bukan dengan protokol kesehatan. Buktinya 200 tahun lalu tidak ada penambahan kasus di Aceh.”

Akhirnya kecongkakan semakin menggila dan tak satu pun orang Aceh yang mengindahkan anjuran pihak kesehatan di tengah pandemi baru pada tahun 2200. Akibatnya wabah menyebar seperti api dan semua orang Aceh saat itu terinfeksi virus dan satu persatu, dengan izin Tuhan punah dari muka bumi.

Jika itu terjadi, sosok yang patut disalahkan adalah jubir covid-19 karena pada tahun 2020 dia telah memuji nenek moyang orang Aceh dengan pujian yang melenakan. Bagbudig!

Ilustrasi: kktv

Khairil Miswar
About Khairil Miswar 51 Articles
Khairil Miswar adalah Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis di beberapa media cetak seperti Serambi Indonesia, Harian Rakyat Aceh, Harian Aceh, Harian Pikiran Merdeka, Harian Analisa; dan di beberapa media online di antaranya hidayatullah.com, republika.co.id, mojok.co, AceHTrend.co, dll. Founder Bagbudig.com.