Era tanpa Messi (III-Tamat)

Cloud Hosting Indonesia
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Messi tidak hanya meninggalkan Barcelona, lebih tepatnya, dia meninggalkan sepakbola. Sulit bagi Messi, dan publik sepakbola, melihatnya bermain bukan dengan jersey Barcelona. Sebab, Messi tumbuh dan mumpuni dalam sepakbola dengan sistem kerja Barcelona. Jadi, kalau pun dia memilih klub lain, katakanlah Manchester City, karena di situ ada Pep Guardiola, tentu tidak akan mengulangi kejayaan dia seperti di Barcelona. Apalagi, Messi kini berusia 32 tahun.

Lalu apa pilihannya?

Saran saya tiga. Pertama, mundur saja dari sepakbola. Kedua, bermain di liga Amerika Serikat atau Cina. Ketiga kembali ke Argentina.

Dua pilihan awal, pastilah tidak akan diambil. Mundur dari sepakbola, di saat masih menarik perhatian bisnis olahraga ini, tentu bukan pilihan yang tepat. Pergi ke Amerika, seperti yang pernah dilakukan oleh Pele, Beukenbeur, Best, Beckham, Lampard dan Kaka, atau ke Cina, seperti Tevez, Hulk dan Oscar, pastilah tidak menjadi pilihan bagi Messi dan lingkarannya. Oleh karena itu, Messi kembali ke Argentina.

Mengapa harus ke Argentina.

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, Messi sepanjang karier sepakbolanya tidak pernah merasakan gairah bermain yang menggelegak. Di Eropa, gairah itu sudah mati. Sepakbola yang penuh drama semakin lama semakin pudar. Jawabannya sederhananya, karena kini sepakbola bukan lagi untuk sepakbola, melainkan untuk bisnis. Itulah mengapa kita memahami pemain seperti Nakata, lebih memilih mundur dari sepakbola dikarenakan dia tidak lagi menemukan gairah di olahraga itu. Namun, hal tersebut masih ditemukan di Amerika Selatan. Sepakbola di sana adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan seperti di Eropa yang menjadi kegiatan akhir pekan. Hal itu yang dicari oleh De Rossi, pemain Italia, yang mau pergi ke Boca Junior, di penghujung kariernya, demi merasakan gairah itu.

Kedua, Messi, sebetapa pun kerasnya dia bermain untuk tim nasional, belum mendapatkan rasa cinta dari Argentina. Messi, acapkali ketika dia memakai jersey tim nasional nomor sepuluh, dia langsung berada dalam tekanan. Baik dari publik Argentina maupun oleh aura Diego. Hal ini diperparah, ketika ban kapten berpindah ke tangannya. Messi, yang karakternya pendiam dan tidak memiliki aura kepemimpinan, langsung mendapatkan beban yang berlipat-lipat berat. Messi kini harus berpikir, kalau dia harus mendapatkan cinta dari negerinya. Mungkin bukan pada prestasi di tim nasional. Sebab, di usia yang tidak muda lagi, ditambah sudah lewatnya generasi emas tim nasional Argentina, sulit untuk mengatakan negara ini akan menjuarai turnamen mayor dalam waktu dekat. Messi harus mengubur dalam-dalam keinginan tersebut. Tetapi, Messi akan mendapatkan rasa cinta dari publik Argentina, ketika dia bermain di salah satu klub di liga negara itu. Mungkin dia bisa kembali ke klub masa kecilnya, Newell’s Old Boys.

Ini adalah akhir cerita dari satu era, di mana Messi telah mengharu-birukan jagat pesepakbolaan dunia. Di satu sisi memang menyedihkan. Tetapi di sisi yang lain, setelah era Messi, juga Ronaldo, kita akan menyaksikan sepakbola yang kembali normal.

Ilustrasi: FIFA

Hosting Unlimited Indonesia
Bung Alkaf
About Bung Alkaf 24 Articles
Muhammad Alkaf adalah Mahasiswa Program Doktoral Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penulis buku Nasionalisme dari Pinggir. Dosen IAIN Langsa.