Iwan Gayo dan Fosil Sejarah

Cloud Hosting Indonesia
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sejarah, seharusnya, tidak membuat kita tertinggal di masa lalu. Semestinya, dengan sejarah, kita menelusuri masa depan. Itulah mengapa, entah yang kesekian kalinya, saya kagum dengan cara kelompok intelektual Aceh yang tumbuh di awal ke-20, memperlakukan sejarah, yang bagi mereka, sejarah bukan sesuatu yang membeku. Apalagi, menjadi mantra yang dirapal terus menerus tanpa arah.

Saya menyebut Ali Hasjmy, sebagai salah satu model intelektual dari masa itu, yang memperlakukan sejarah sebagai jalan untuk masa depan.

Bacalah puisinya tentang revolusi, yang mempersembahkan itu untuk Sukarno — dia menyebut dirinya sebagai serdadu Sukarno. Puisi tersebut menggambarkan Aceh dari masa lalu – – Umar dan Tiro sebagai simbol – – yang lalu dipertautkan dengan ide Indonesia yang lebih muda.

Indonesia di masa itu adalah jembatan emas. Terlebih untuk Aceh yang sudah jauh tertinggal sejak abad ke 19. Oleh intelektual Aceh era itu, Indonesia sebagai jalan untuk Aceh kembali tumbuh subur seperti masa lalunya.

Bukan kebetulan juga, Ali Hasjmy juga, saat menjadi Gubernur Aceh di masa perang Darul Islam, menginisiasi pembangunan pendidikan modern, kita mengenalnya sebagai Darussalam.

Selalu ada alasan praksis di balik pendirian pendidikan tinggi modern tersebut. Namun, di Aceh, alasan sejarah tidak pernah absen, bahkan selalu menjadi energi. Itulah mengapa ingatan angkatan Ali Hasjmy itu, selalu kepada narasi tentang Aceh yang pernah menjadi pusat pendidikan di Asia Tenggara di Abad ke 17-18.

Kini, di ruang-ruang publik kita di Aceh, sejarah selalu menjadi alasan utama mengapa orang selalu berbicara. Masa lalu, begitu penting bagi orang Aceh.

Begitu pun bagi Iwan Gayo.

Dia menjadi orang yang dipercaya ahli waris untuk menagih utang emas yang dipinjam Presiden Sukarno di tahun 1941. Ceritanya, melalui anggota BPUPKI, kisah utang itu bersemi.

Saya mencoba menebak, kalau yang dimaksud BPUPKI itu merupakan badan persiapan kemerdekaan Indonesia. Lembaga tersebut bentukan Jepang, di tahun 1945. Bahkan, Jepang, sebagaimana yang kita tahu, masuk ke Indonesia tahun 1942. Dan yang paling penting, Sukarno – – sebagai orang yang disebut-sebut, masih dibuang di Bengkulu. Belum jadi apa pun di Indonesia.

Tetapi, apalah artinya segunung data sejarah yang kita ketengahkan itu – – sesuatu yang bahkan sangat elementer dalam penulisan sejarah kita– ketika data dan kepakaran telah mati di era ini. Kasus utang emas tersebut disambut dengan gegap gempita di jagat media sosial.

“Itu utang, maka harus dibayar!”

Bahkan, tidak kurang dari politisi hebat dan sarjana yang belajar sejarah secara serius, juga ikut terseret ke dalam narasi yang sedemikian absurd itu.

Apabila terus demikian, bisa-bisa sejarah bagi orang Aceh, akan menjadi fosil yang membeku. Lalu orang Aceh terjebak di dalamnya.

Ilustrasi: Twitter Iwan Gayo

Hosting Unlimited Indonesia
Bung Alkaf
About Bung Alkaf 25 Articles
Muhammad Alkaf adalah Mahasiswa Program Doktoral Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penulis buku Nasionalisme dari Pinggir. Dosen IAIN Langsa.