Menyusun Puzzle-Puzzle Kesesatan dan Kejahatan Syi’ah Terhadap kaum Muslimin

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Fajri

Jamak diketahui bahwa musuh utama Islam hanyalah Yahudi dan Nasrani sebagaimana termaktub dalam al-Quran, namun dalam perkembangannya lahirlah Syi’ah yang selalu setia dalam naungan ketiak Yahudi dan Nasrani dalam setiap makar jahat untuk Islam dan kaum muslimin.

Ada banyak versi pendapat mengenai asal muasal lahirnya Syi’ah. Ada yang berpendapat Syi’ah lahir pada periode akhir kekhalifahan Ustman bin Affan atau pada awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib, di mana pada masa itu terjadi pemberontakan terhadap khalifah Ustman bin Affan yang berakhir dengan syahidnya khalifah Ustman bin Affan dan tuntutan agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibai’at sebagai khalifah.

Ada yang juga yang berpendapat bahwa Syi’ah lahir setelah perundingan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan di Siffin yang lebih popular disebut dengan peristiwa tahkim. Akibat kegagalan itu sejumlah pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari barisan pasukan Ali. Mereka ini disebut khawarij dan sebagian lagi yang tetap setia kepada khalifah Ali bin Abi Thalib disebut Syi’ah Ali (pengikut Ali).

Sedangkan menurut Thabatthabai, Syi’ah muncul karena kritik dan protes terhadap dua masalah besar kaum muslimin kala itu yaitu pemerintahan Islam dan kewenangan dalam pengetahuan keagamaan yang menurut Syi’ah menjadi hak istimewa ahlul bait.

Istilah Syi’ah pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syi’ah Ali yang muncul pertama kali pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah Ali bin Abi Thalib melawan pihak Mu’awiyah dan hanya bersifat kultural tidak bercorak aqidah sebagaimana perkembangan sesudahnya hingga sekarang. Karena Syi’ah Ali (pengikut Ali) kala itu tidak ada yang berkeyakinan dan mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih mulia dan berhak atas kekhalifahan setelah Rasulullah daripada Abu Bakar, Umar bin Khattab serta Ustman bin Affan. Bahkan Ali bin Abi Thalib sendiri pernah menegaskan lewat khutbahnya di kufah bahwa, “Sebaik-baik umat Islam setelah nabi Muhammad adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Demikian pula jawaban beliau  saat ditanya putranya Muhammad ibn al-Hanafiah seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya (Hadits no.3671).

Sebagaimana ulasan di atas bahwa Syi’ah Ali (pengikut Ali) generasi awal adalah kaum muslimin yang lurus, bersih dan selamat karena masih berpegang teguh kepada al-Quran dan Sunnah Nabi serta tidak merendahkan keutamaan para sahabat tidak pula mengkafirkan mereka. Namun dalam perkembangannya Syi’ah Ali tidak awet dan tahan lama. Syi’ah Ali yang murni dan lurus disusupi oleh musuh pendengki yang berencana busuk membuat makar terhdap Islam dan kaum muslimin.

Adalah Abdullah bin Saba’ seorang beragama Yahudi. Ketika masuk Islam, ia mendukung Ali. Dialah yang pertama kali mempopulerkan kewajiban imamah terhadap Ali. Disebutkan pula bahwa saat Abdullah bin Saba’ masih beragama Yahudi pernah menyatakan bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut Nabi Musa. Saat masuk Islam ia menyatakan bahwa Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Abdullah bin Saba’ pula yang mula-mula mempopulerkan Syi’ah Sabaiyah yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak akan mati, sehingga ia berhasil menegakkan keadilan di muka bumi. Kelompok ini pula yang secara terang-terangan mencaci serta berlepas diri dari Abu Bakar, Umar dan Ustman serta sahabat mulia lainnya. Mereka mengklaim bahwa tindakan mereka atas perintah Ali bin Abi Thalib. Ketika dipanggil oleh Ali mereka mengakui perbuatannya. Dan hampir saja Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin Saba’. Namun karena pertimbangan beberapa orang vonis mati terhadap Abdullah bin Saba’ urung dilaksanakan dan akhirnya Ali mengusirnya ke Madain. Karena Abdullah bin Saba’ pula orang-orang berkeyakinan bahwa ajaran Syi’ah berasal dari Yahudi.

Sebagaimana uraian sebelumnya bahwa Syi’ah di awal kemunculannya adalah gerakan politik yang masih lurus aqidahnya, namun dalam perkembangannya Syi’ah yang lurus ini tidak awet tahan lama. Justru yang berkembang kemudian adalah Syi’ah sabaiyah yang penuh dengan penyimpangan dan loyal kepada Ali serta menolak kekhilafahan syaikhan (Abu bakar dan Umar) bahkan mengkafirkan mereka. Karena itulah para ulama menyebut mereka yang menjelekkan dan menolak kekhilafahan as-Syaikhain sebagai Rafidhah.

Menulis tentang awal mula kemunculan Syi’ah membutuhkan tulisan yang sangat panjang. Tidak mungkin kita tuangkan semua dalam tulisan singkat ini. Setelah kita mengetahui sedikit tentang sejarah lahirnya Syi’ah, selanjutnya mari kita telaah tentang penyimpangan pokok dan mendasar sekte ini.

Pertama, meragukan orisinalitas al-Quran. Berbeda dengan Ahlussunnah yang haqqulyaqin akan orisinalitas dan keontetikan al-Quran yang ada saat ini. Sekte Syi’ah melalui tulisan mereka dalam kitab-kitabnya jelas meragukan keontetikan al-Quran yang ada saat ini. Kitab Awail al-Maqalat halaman 80, 81 karangan ulama Syi’ah al-Mufid, menyebutkan bahwa al-Quran yang ada saat ini tidak orisinil. Dalam kitab Mir’atul ‘Uqul Syarh al-Kafi karangan Baqir al-Majlisi halaman 525, menyatakan bahwa al-Quran telah mengalami pengurangan dan perubahan.

Di samping meragukan keaslian al-Quran. Kalangan Syi’ah juga banyak membuat penyimpangan mengenai hadits atau sunnah. Pemahaman mereka terhadap hadits atau sunnah bukanlah perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi sebagaimana yang pemahaman kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Pemahaman Syi’ah terhadap hadits sebagaimana keterangan Syech Hasan ash-Shadr dalam Nihayah ad-Dirayah halaman 80, ”Hadits ialah hakikat perkataan yang maksum, perbuatannya dan ketetapannya.  Sedangkan definisi sunnah sebagaimana yang disebutkan dalam redaksi Sayyid Muhammad Taqiy al-hakim dalam al-Ushul al-Aimmah li al-Fiqh al-Muqaran halaman 122, ialah “dan sunnah merupakan segala sesuatu yang bersumber dari al-maksum, berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir.

Lebih jauh Syech Muhammad Ridha al-Muzhaffar pakar Ushul Fiqh Syi’ah kontemporer menjelaskan mengenai latar belakang pembentukan istilah dan sumber sunnah dikalangan Syi’ah. Beliau menyatakan, “As-sunnah menurut istilah fuqaha adalah sabda nabi, perbuatan, dan taqrirnya. Adapun menurut fuqaha Syi’ah Imamiyah setelah kukuh keyakinan mereka bahwa perkataan al-maksum dari kalangan ahlul bait setingkat dengan perkataan nabi. Sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba. Sungguh mereka telah memperluas batasan sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perbuatan, dan taqrir al-maksum. Dengan demikian, sunnah dalam terminology  mereka adalah perkataan, perbuatan, atau taqrir al-maksum.

Rahasia di balik itu semua adalah karena para imam dari kalangan ahlul bait tidaklah sama dengan para perawi dan ahli hadits yang meriwayatkan dari Nabi, hingga perkataan mereka baru dapat dijadikan hujjah jika mereka tsiqah dalam periwayatannya, tetapi mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya untuk menyampaikan hukum-hukum yang besifat realitas. Mereka tidak mungkin menetapkan hukum, kecuali jika hukum-hukum realitas itu memang berasal dari Allah Ta’aala apa adanya. Dan itu semua diperoleh melalui jalur ilham, seperti Nabi melalui jalur wahyu atau melalui penerimaan dari imam maksum sebelumnya.

Berdasarkan hal ini, penjelasan mereka terhadap hukum bukan termasuk dalam kategori periwayatan sunnah atau ijtihad dalam menggali sumber-sumber tasyri’. Akan tetapi, karena merekalah sumber hukum tasyri’ itu sendiri. Karena itu, perkataan mereka adalah sunnah, bukan hikayat sunnah.”

Dengan demikian jelaslah bahwa Syi’ah meyakini bahwa wahyu tidak berhenti setelah Nabi wafat. Karenanya imam-imam Syi’ah dapat mengeluarkan hadits atau sunnah. Tidak heran jika tulisan dan khutbah imam-imam diposisikan sejajar dengan hadits dan sunnah. Inilah yang membedakan kajian hadits Ahlussunnah dengan Syi’ah. Dan ini pula yang menyebabkan jumlah hadits Ahlussnah tidak lebih banyak dari pada jumlah hadits Syi’ah.

Bahkan dalam kalangan Syi’ah jumlah hadits para imam jauh lebih banyak dari hadits Nabi. Jika kita merujuk kepada empat kitab hadits Syi’ah yaitu al-Kafi, Man La Yadhuruh al-Faqih, Tahdzib al-Ahkam, dan al-Istibshar. Hasil penelitian para pakar menunujukkan bahwa jumlah hadits yang termaktub dalam empat kitab tersebut adalah 43.850 hadits. Dengan rincian hadits Nabi hanya 11,30% (4.956 hadits). Sementara proporsi hadits Ja’far ash-shadiq Imam Syi’ah keenam sebesar 25% (10.967 hadits). Jika demikian adanya tidah salah jika kita berkeyakinan bahwa sumber ajaran Syi’ah adalah sunnah Ja’fariyyah.

Kedua, mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi sallalhu alaihi wasallam. Ulama Syi’ah Ni’matullah al-Jazairi dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah halaman 246-247  ia menulis, “Bahwa Abu Bakar, dan Umar tidak pernah beriman kepada Rasulullah sallalhu alaihi wasallam sampai akhir hayatnya. Belum puas sampai di sini ia juga memfitnah Abu Bakar telah berbuat Syirik dengan memakai kalung berhala saat sholat dibelakang Nabi dan bersujud untuknya.

Ulama Syi’ah lainnya al-Kulaini dalam al-Raudhah min al-Kafi mengatakan, bahwa sepeninggalan Nabi seluruh sahabat telah murtad, kecuali tiga orang yaitu, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi. Lebih keji lagi al-‘Iyasyi dalam dan al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar halaman 700, menyatakan bahwa baginda Rasul wafat karena diracun oleh Aisyah dan Hafsah.

Ketiga, mengkafirkan seluruh kaum muslimin. Layaknya aliran sesat lain yang mengkafirkan orang-orang yang berseberangan dengan keyakinannya, demikian juga halnya dengan Syi’ah.  Perihal Syi’ah mengkafirkan kaum muslimin bukanlah sesuatu yang mengada-ngada, akan tetapi merupakan sesuatu yang benar adanya. Sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab Syi’ah. Dalam kitab Shahifah al-Abrar, vol.1, hal.342 Mirza Muhammad Taqi menulis, selain orang Syi’ah akan masuk neraka selama-lamanya. Meskipun semua malaikat, semua nabi, semua syuhada dan semua shiddiq menolongnya, tetap tidak bisa keluar dari neraka.

Lebih parah lagi, al-Kulani dalam al-Ushul min al-kafi, vol.1 hal 233 menyatakan bahwa orang yang menganggap Abu Bakr dan Umar bin Khattab muslim, tidak akan ditengok Allah pada hari kiamat dan akan mendapatkan siksa yang pedih.

Pembaca yang budiman, Setelah kita mengetahui kesesatan Syi’ah selanjutnya marilah kita mengulas kejahatan-kejahatan Syi’ah terhadap kaum muslimin.

Merupakan sunnatullah di mana sebuah kebenaran tegak di tempat yang sama pula berdiri komplotan iblis untuk menghancurkannya. Saat risalah Islam mulai menyinari bumi Allah ini, konspirasi musuh untuk memadamkan cahayanya akan terus aktif sampai hari kiamat kelak. Diantara sekian banyak musuh islam yang paling berbahaya adalah Syi’ah, karena sekte ini dalam penampilannya tampak seperti madu padahal racun.

Syi’ah dengan segenap lip servicenya berhasil membius dan menipu ummat Islam khususnya kalangan awwam.Mengidentifikasi diri sebagai pemersatu kaum muslimin, berada di garda terdepan melawan penindasan dan kezaliman Zionist terhadap muslimin Palestin, simbol kekuatan Islam serta berani melawan hegemoni Barat. Padahal……!!!

Makar dan kejahatan Syi’ah terhadap Islam

Abdullah bin Saba tokoh Yahudi dari Yaman muncul di zaman khalifah Ustman bin Affan. Mengaku sebgai muslim tetapi kelakuannya sangat bertolak belakang sebagai muslim. Pekerjaan memfitnah menjadi lakon sehari-harinya hingga Ibnu saba dan pengikutnya diusir dari kota Madinah.

Ibnu Saba lari dan berkeliling wilayah Syam, mesir dan Irak. Imam ath-Thabari dalam Tarikhnya menyatakan, “Ketika Ibnu Saba’ sampai di Syam, ia bertemu dengan Abu Dzar al-Ghiffari, dan membujuknya agar memberontak terhadap Muawiyah. Dikatakannya bahwa Muawiyah pernah mengatakan: “Semua harta benda adalah milik Allah, dan segala sesuatu yang ada ini, hakikatnya kepunyaan Allah.” Dengan kalimat ini Ibnu Saba bermaksud menganjurkan agar kaum muslimin mengumpulkan harta sebanyak mungkin untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan ummat. Dengan kalimat ini pula, Ibnu Saba mendatangi Abu Darda, tetapi beliau waspada dengan kehadirannya itu, dan segera menyatakan: “Siapakah Anda? Kalau tidak salah adalah seorang Yahudi tulen.”

Abdullah bin Saba juga berulah di Mesir dan Irak dengan mengembangkan ajaran ar-Raj’ah (reinkarnasi) dan mengatakan; “Bukankah kalian telah meyakini bahwa al-Masih akan datang kembali? Mengapa kalian tidak meyakini bahwa Muhammad juga akan datang kembali? Mengapa pula kalian berdiam diri ketika kekuasaan dan kepemimpinan umat dirampas dari tangan ahlul bait Nabi? Dengan racun inilah Ibnu Saba mulai menyebarkan kecaman terhadap Khalifah Utsman bin Affan, dan menyebarkan berita bohong kepada beberapa orang sahabat. Dari sini, ia telah membuka poros fitnah, dengan Mesir dan Kufah disatu pihak, melawan khalifah Ustman di pihak lain. Melalui poros fitnah ini pula pembunuhan Ustman bin Affan dirancang.

Abdullah bin Saba adalah orang pertama yang menyatakan baia’tnya kepada Ali bin Abi Thalib ketika beliau menjadi Khalifah. Ibnu saba membawa dongeng tentang Yusa’ bin Nun yang memperoleh wasiat dari Nabi Musa untuk melegitimasi kekhalifahan Ali bin Abu Thalib. Bahkan menurut Ibnu Saba Ali juga memperoleh wasiat dari Nabi Muhammad untuk menggantikan beliau.

Tak cukup hanya itu, Ibnu Saba juga mulai melancarkan kecaman terhadap Abu Bakar, Umar, Ustman dan beberapa sahabat yang loyal kepada mereka. Ibnu Saba mengaku mendapat intruksi dari Ali bin Abu Thalib.

Atas fitnah yang dialamatkan kepada Ali ini, Abdullah bin Saba dihadapkan kepada khalifah Ali untuk mempertanggungjawabkan segala tingkah perbuatannya itu. Ibnu Saba pun mengakui semua perbuatan fitnah itu.

Khalifah Ali menjatuhkan hukuman sanksi hukuman mati atas Ibnu Saba. Karena protes hadirin peserta sidang, “Wahai Amirul Mukminin apakah anda akan menghukum orang yang mencintai anda dan Ahlul bait, serta mendukung kepemimpinan anda dan menentang lawan-lawan anda?” akhirnya eksekusi mati terhadap Ibnu Saba urung dilaksanakan. Khalifah Ali akhirnya memutuskan membuang Ibnu Saba ke Madain.

Saat tiba di Madain Ibnu Saba tak kunjung jera, ia berulah lagi di Madain. Saat itu tersebarlah berita kematian Khalifah Ali bin Thalib. Saat kaum muslimin sedang berduka cita atas wafatnya Ali Ibnu Saba justru membuat kegaduhan seraya berkata: “Sekalipun kalian mendatangkan kepadaku 70 saksi yang adil menerangkan wafatnya Ali, aku sendiri yang akan menyatakan bahwa dia tidak mati, Ali tidak akan wafat, tak akan terbunuh sebelum ia menguasai seluruh permukaan bumi ini.”

Dari sinilah awal mula Ibnu Saba menjadi orang pertama yang mempertuhankan Ali bin Abi Thalib. Ia mengatakan Ali tidak terbunuh, karena pada dirinya ada unsure ketuhanan. Ali sering menjelma dalam bentuk awan. Guruh adalah suaranya, petir adalah cemetinya. Begitulah racun syirik disebarkan Ibnu Saba.

Melalui Tangan Taha Husein kalangan Syi’ah beruapaya menghapus jejak Ibnu Saba sebagai arsitek utama Syi’ah. kalangan Syi’ah mengklaim bahwa Ibnu Saba adalah fitnah yang sengaja dibuat oleh Ahlussunnah wal Jama’ah.

Namun upaya itu seperti sia-sia belaka sebab ulama-ulama Syi’ah klasik secara terang benderang dalam kitabnya mengakui keberadaan Ibnu Saba, seperti Sa’ad Al Qummi dalam kitabnya al Maqalat wa al Firaq, Abu Muhammad Hasan bin Musa An Nubakhty di dalam bukunya Tarikh al Ya’qub.

Al-Qummi menyebutkan: “Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ustman bin Affan, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Ali pun menanyakannya akan hal itu. Maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Lalu orang orang berteriak dari setiap penjuru: Wahai Amirul Mukminin! Apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak berikrar setia kepadamu dan berlepas dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al-Madain.”

Fakta lain yang tak terbantahkan mengenai keberadaan Abdullah bin Saba adalah tulisan Dr. Sy’adiy Hasyimi dalam kitabnya yang berjudul Ibnu Saba’ Haqiqatun La Khayal. Buku ini memperkuat bahwa ajaran Syi’ah mempunyai beberapa kesamaan dengan ajaran Yahudi .dalam buku ini juga Dr. Sya’diy menjelaskan bagaimana ideologi Syi’ah merasuki ajaran Syi’ah. dengan merujuk langsung dari kitab-kitab ulama Syi’ah dengan perkataan tentang kemaksuman imam-imam Syi’ah, di antaranya:

Pertama, percaya kepada Ismah (kesucian dari dosa) para imam dan menjadikan hadits-hadits yang berasal dari mereka benar, sekalipun sanadnya tidak bersambung dengan Nabi. (lihat Tarikhul Imamah, hal : 158).

Kedua, karena imam dikalangan imamiah adalah ma’sum, maka tidak ada keraguan sedikitpun terhadap apa yang ia ucapkan (lihat Tarikhul Imamiah, hal: 140).

Ketiga, Al-Mamaqani berkata: “Semua hadits kami mutlak berasal dari imam yang ma’sum.” (lihat Tanhiqul Maqol, jilid I/17)

Jika kita rinci seluruh kejahatan Syi’ah terhadap Islam sungguh sangatlah panjang dan lebar, namun demikian penulis mencoba meringkasnya untuk kehadapan pembaca sekalian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa asal setiap fitnah dan bencana adalah Syi’ah dan orang yang mengikuti mereka. Kebanyakan pedang yang menumpahkan darah kaum muslimin adalah dari mereka dan bersama mereka bersembunyi orang-orang zindiq.

Penganut Syi’ah menganggap kaum muslimin lebih kufur dari Yahudi dan Nasrani hingga mereka saling bahu membahu bekerjasama dalam memerangi kaum muslimin dari zaman dulu hingga sekarang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan Sungguh kami kaum muslimin telah melihat apabila kaum muslimin diserang musuh kafir maka Syi’ah bersama mereka mengahdapi kaum muslimin.

Lihatlah kisah masuknya Hulaghu Khan (raja Tartar Mongol) ke negeri Syam tahun 658 H di mana kaum Syiah menjadi penolong dan pembantu mereka yang paling besar dalam menghancurkan negara Islam dan menegakkan negara mereka, dan ini telah diketahui dengan jelas dalam buku-buku sejarah khususnya di Iraq di mana menteri khalifah waktu itu yang bernama Ibnul Alqaamiy dan kaum Syiah menjadi pembantu Hulaghu Khan dalam menaklukkan Iraq dan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak terhitung jumlahnya. Ringkas kejadiannya Ibnul Alqaamiy adalah seorang menteri pada khalifah Bani Abasiyah yang bernama Al Mu’tashim seorang Ahli Sunnah akan tetapi dia lengah dan tidak memperhatikan bahaya Syiah sehingga mengangkat seorang Syiah sebagai menterinya padahal menterinya ini telah merencanakan makar busuk dalam rangka menghancurkan negaranya dan kaum muslimin serta menegakkan negara Syiah, ketika mendapat jabatan tinggi tersebut maka dia memanfaatkannya untuk merealisasikan makarnya menghancurkan negara Islam dengan melakukan tiga marhalah:

Pertama, melemahkan tentara muslimin dengan menghapus gaji dan bantuan kepada para tentara dan mengurangi jumlahnya. Ibnu Katsir berkata: Menteri Ibnul Alqaamiy berusaha keras untuk menyingkirkan para tentara dan menghapus namanya dari dewan kerajaan. Pada akhir masa pemerintahan Al Muntashir  tentara kaum muslimin mendekati jumlah seratus ribu tentara…dan dia terus berusaha menguranginya sehingga tidak tinggal kecuali sepuluh ribu orang tentara saja.

Kedua, menghubungi Tartar. Ibnu Katsir memaparkan bahwa dia menghubungi Tartar dan memotivasi mereka untuk merebut wilayah Islam serta mempermudah mereka untuk itu lalu dia menceritakan keadaan yang sesungguhnya dan menceritakan kelemahan-kelemahan para tokoh pemimpin Islam.

Ketiga, melarang orang memerangi Tartar dan menipu khalifah dan masyarakat Islam. Ibnul Alqaamiy melarang orang untuk memerangi Tartar dan menipu Khalifah dan para penasehatnya dengan mengatakan bahwa Tartar tidak ingin perang akan tetapi ingin membuat perjanjian damai dengan mereka dan meminta Khalifah untuk menyambut mereka untuk kemudian berdamai dengan memberi separuh hasil pemasukan negeri Iraq untuk Tartar dan separuhnya untuk khalifah. Lalu khalifah berangkat bersama tujuh ratus orang dari para hakim, ahli fiqih, amir-amir dan pembantu-pembantunya… lalu dengan tipu daya ini terbunuhlah khalifah dan orang yang bersamanya dari para panglima tentara dan prajurit pilihannya tanpa susah payah dari Tartar. Sedang orang-orang Syiah lainnya menasehati Hulaghu Khan untuk tidak menerima perdamaian khalifah dengan mengatakan bahwa kalau terjadi perdamaianpun tidak akan bertahan kecuali setahun atau dua tahu saja kemudian kembali seperti sebelumnya dan memotivasi Hulaghu Khan untuk membunuh khalifah, dan dikisahkan yang menyuruh membunuh kholifah adalah Ibnul Alqaamiy dan Nushair Ath Thusiy. Kemudian mereka masuk ke negeri Iraq dan membunuhi semua orang yang dapat dibunuh dari kalangan laki-laki, perempuan, anak-anak, orang jompo dan tidak ada yang lolos kecuali ahli dzimmah dari kalangan Nasrani dan Yahudi serta orang-orang yang berlindung kepada mereka dan ke rumah Ibnul Alqaamiy.

Al-Hafidz Ibnu katsir daalam kitabnya Al-Bidayah wa An-Nihayah menyebutkan bahwa pada 317-339 Hijrih (929-952M) tentara Syi’ah Qurmuty dibawah komando Hamadan Ibn Al-Shath Al-Qurmuty menyerang dan membunuh rombongan jamaa’h haji lalu kemudian menyerang ka’bah. Mengambil Hajar Aswad kemudian memecahkannya menjadi delapan bagian. Menarik keluar Kisa’a Al-kabah dan memotongnya kepada banyak pecahan kemudian dibagi kepada pengikutnya. Memusnahkan Mizab Al-kabah (saluran untuk menyalurkan air jika hujan turun di atas ka’bah) seluruh mayat jama’ah haji dibuang kedalam telaga Zam-zam.

Atas aksi keji ini khalifah Al-Muktadir Billah bersama delapan puluh ribu tentara menyerang tiga ribu tentara Qurmutiah dan membunuh mereka. Disebutkan bahwa dalam peristiwa tersebut ada sepuluh keluarga pengikut Qaramithah berhasil melarikan diri ke Syiria kemudian ke jabal Arab. Salah satu dari sepuluh keluarga tersebut adalah Al-Assad. Akibat tragedi berdarah ini dua puluh dua tahun kaum muslimin tak menunaikan ibadah Haji.

Di masa modern ini pun telah terjadi beberapa tragedi dalam pelaksanaan ibadah Haji di Makkah yang dipicu oleh ulah jama’ah Haji asal Iran. Pada 31 juli 1978 yang menewaskan 275 jiwa, 85 warga Arab Saudi dan 42 jama’ah asal Negara lain. Sebanyak 643 jiwa terluka mayoritas adalah jama’ah asal Iran.

Perseteruan antara wahabi dan syiah yang kini di wakilkan Arab Saudi dengan Iran sudah berlangsung lama.sejak Syech Muhammad Ibn Abdul Wahhab menyerukan dakwah tauhid di Semenanjung Hijaz. Di mana wahabi pernah menghancurkan bangunan makam yang dikultuskan termasuk diantaranya adalah makam ulama Syi’ah Al-Baqi pada tahun 1925. Buntut dari peristiwa ini membuat pemerintah dan rakyat Iran yang mayoritas beragama Syi’ah marah. Pemerintah Iran menyerukan penggulingan kerajaan Saudi Arabia dan melarang warganya berhaji pada 1925.

Pada tahun 1943 pemerintah kerajaan Arab Saudi memenggal leher seorang jama’ah Haji asal Iran karena tertangkap membawa kotoran manusia kedalam Masjidil Haram, tak ayal peristiwa ini pun membuat hubungan Saudi dan Iran semakin tegang. Iran protes dan melarang warganya berhaji pada 1948.

Berbekal titah dari Ayatullah Khomeini pada tahun 1971 jama’ah Haji asal Iran menggelar demontrasi terhadap pemerintah Arab Saudi dengan tema “Menjaga jarak dengan Para Musyrikin.”

Juma’t 31 Juli 1987 kemelut kembali terulang. Pemicunya adalah aksi pawai protes jama’ah haji asal Iran menentang musuh Islam yaitu Israel dan Amerika Serikat di Makkah ketika sampai di depan Masjidil Haram para pemerotes dilarang masuk oleh petugas keamanan kerajaan, namun para pemerotes tetap berusaha masuk hingga bentrokan berdarah tak dapat dihindari. Ekses dari peristiwa ini ketegangan antara Arab Suadi dan Iran kembali terjadi, Arab Saudi membatasi kuota jama’ah haji untuk Iran.

Dan yang terkini adalah tragedi Mina yang terjadi pada musim haji tahun 2015. Kuat dugaan tragedy Mina adalah makar Iran untuk menjatuhkan pamor Saudi dimata dunia. Hal ini terlihat dari reaksi Iran yang begitu keras terhadap tragedi ini bahkan Iran menuntut agar penyelenggraan haji tidak di manage oleh Saudi saja. Tragedi Mina terjadi ditengah tegangnya hubungan Saudi dengan Iran karena konflik Yaman. Dimana Saudi menjadi inisiator koalisi Negara Negara Arab untuk menyerang milisi Syi’ah Houtsi dukungan Iranyang memberontak kepada pemerintah Yaman.

Sumber sumber terpercaya menyebutkan bahwa tragedi Mina terjadi akibat ulah Jama’ah haji asal Iran yang usai melempar jumroh tidak keluar melalui jalur yang semestinya. namun keluar melalui jalur masuk jama’ah lain hingga terjadilah aksi desak-desakan hingga menewaskan ratusan jama’ah terbanyak adalah jama’ah Iran.

Analisis-analisis Sunni menyebutkan ada beberapa kejanggalan dalam tragedi Mina yang semakin memperkuat dugaan semuanya adalah by design. Diantaranya adalah tragedi Mina terjadi disaat jumlah jama’ah haji yang relative sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu 2 jutaan karena adanya proyek perluasan Masjidil Haram. Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya jumlah jama’ah berkisar 4 jutaan namun tidak terjadi apa-apa. Secara logika tentu memenage jama’ah 2 jutaan jauh lebih mudah dari 4jutaan. Apalagi setiap tahunnya Saudi selalu mengadakan evaluasi dan peningkatan layanan ibadah haji.

Indikasi lain yang semakin memperkuat tragedi Mina adalah by design yaitu sepuluh Zulhijjah memiliki makna ediologis tersendiri bagi kaum Syi’ah. dalam tarikh disebutkan bahwa tahun delapan hijrah turun perintah haji. Kemudian pada tahun Sembilan hijrah Rasul mengutus Abu Bakar dan para sahabat pergi haji. Karena masih ada orang-musyrik yang berhaji dan thawaf sambil telanjang dan sibuk menerima delegasi dari berbagai suku Rasul baru berhaji pada tahun 10 hijrah. Konon tahu 9hirah disebut dengan Aamul wufud, yaitu tahun datangnya berbagai delegasi untuk bertanya Islam.

Rasulullah meminta kepada Abu Bakar bersama sejumlah sahabat untuk mengumumkan dua urusan penting; pertama, setelah tahun ini tidak boleh ada lagi orang musyrik yang pergi haji. Kedua; tidak boleh lagi thawaf dalam keadaan telanjang.

Ketika itu turunlah surat at-Taubah yang isinya membatalkan semua perjanjian dengan kaum musyrikin Arab ketika itu.

Kalangan Syi’ah berpendapat bahwa yang berhak mengumumkan keputusan Nabi di Mina adalah Ali bukan Abu Bakar, Syi’ah menuduh Abu Bakar telah merampas wewenang Ali. Karenanya kebencian Syi’ah terhadap Abu Bakar begitu kuat. Maka moment 10 Zulhijjah sering digunakan oleh jama’ah haji Iran untuk berdemontrasi. Mereka menyebutnya muzoharah baroah, yaitu demontrasi berlepas diri dari kemusyrikan. Subtansi dari muzhoharah baroah tersebut ialah berlepas diri dari Abu Bakar, Umar bin Khatab serta pengagungan terhadap Ali dan Husein. Tak heran talbiyah jama’ah haji Iran bukan Labbaika Allhumma Labbaik, melainkan Labbaika yaa Husein.

Beberapa indikasi diatas mempekuat dugaan bahwa Syi’ah bermain dalam tragedi Mina musim haji 2015. Wallahu ‘alam!

Fajri

*Penulis adalah Kepala MAS Pesantren Imam Syafii Sibreh Aceh Besar.

Editor: Khairil Miswar

Ilustrasi: Medium.com

Fajri
About Fajri 15 Articles
Fajri adalah Kabid Pendidikan di Pesantren Imam Syafi'i Sibreh. Alumnus UNMUHA.