Menulis Untuk Memberikan

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Oleh: Sarah Ulfah*

Menulis tidak bisa dipisahkan dengan membaca. Salah satu usaha sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengabadikan seabrek pengetahuan yang telah kita dapat dari membaca adalah menjelmakannya menjadi sebuah tulisan. Ya, walaupun dengan usaha mengabadikan tersebut sebenarnya kita juga sedang memanjakan daya ingat kita sendiri.

Kegiatan membaca juga selalu berbanding lurus dengan kegiatan menulis, harusnya seperti itu. Seseorang yang memiliki banyak bacaan dijamin tidak akan kehabisan ide untuk menulis. Oleh karena itu kegiatan membaca selalu disandingkan dengan menulis.

Saya mendapat sebuah quote menarik perihal membaca dan menulis. Quote tersebut berbunyi “Membaca untuk menemukan, menulis untuk memberikan.” Penggalan quote ini telah menghantarkan saya untuk kembali menulis lagi, yang sebelumnya bisa dikatakan saya sudah meng-alpakan diri dari dunia tulis-menulis.

Memang benar, pada saat itu –saya telah memutuskan untuk berhenti menulis. Namun, ada hal yang tidak bisa saya sembunyikan. Terdapat gemuruh dalam jiwa yang tak kunjung senyap ketika saya berhadapan dengan tulisan-tulisan yang dapat memantik semangat untuk belajar, atau di saat saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang kuat dalam dunia tulis-menulis. Dan di saat itu pun, kerinduan dalam diri begitu kuat untuk menyapa kembali dunia menulis. Tetapi pada saat yang bersamaan pikiran saya seakan memberi sugesti bahwa saya tidak mumpuni dalam dunia tulis-menulis. Bahkan saya tidak layak untuk menggeluti dunia itu. Pun saya merasa bukan termasuk orang yang punya daya kritis tinggi yang mampu menyumbangkan pemikiran-pemiran hebat untuk dunia literasi. Saya juga bukan sosok yang penuh dengan kebijakan yang mampu membujuk para pembaca agar menentukan sikap-sikap yang baik dan positif. Walhasil, kegiatan tulis-menulis tidak juga terealisasi.

Suatu ketika, sebuah quote lewat di salah satu platform media sosial saya. quote itu berbunyi “Membaca untuk menemukan, menulis untuk memberikan”. Saya mencoba menziarahi dan menghayati kembali makna dari quote yang sempat saya skip tersebut. Dan pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa ternyata menulis itu bukan hanya sebatas mampu atau tidak mampu. Namun menulis itu adalah tentang “memberikan”. Iya, memberikan pengetahuan, pengalaman, informasi atau apa pun itu yang telah kita dapatkan dari membaca, belajar, mengamati ataupun berdiskusi. Dan dalam dimensi agama, memberi sudah dianggap sebagai sebuah tindakan kebajikan yang kebermanfaatannya itu akan dikembalikan lagi kepada orang yang memberi.

Mengingat kegiatan menulis merupakan sebuah kebajikan yang sarat manfaat, saya mengambil keputusan untuk menulis kembali. Saya membisikkan kalimat-kalimat afirmasi yang dapat memantik kembali semangat menulis. “Mulai aja dulu. Nulis aja dulu. Gak usah risau dengan hasil akhirnya. Kamu tidak perlu berekspektasi bahwa tulisanmu mampu menghipnotis para pembaca. Kalau ekspetasi yang kamu bangun setinggi itu, kamu tidak bakal pernah mulai lagi untuk nulis. Tenang, semua ada tahapnya”.

Hosting Unlimited Indonesia
bagbudig
About bagbudig 939 Articles
Bagbudig.com adalah media diskusi antar penulis dan pemikir lintas golongan. Bagbudig.com menerima sumbangan tulisan berupa opini, ulasan buku atau catatan perjalanan. Silakan kirim ke email: bagbudig@gmail.com.