Soal Jalan Hasan Tiro

Cloud Hosting Indonesia
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa tulisan ini hanya sekadar pendapat belaka. Meskipun sekadar pendapat, namun tetap saja membutuhkan argumen logis agar pendapat itu bisa dipacak. Dan, sejauh mana logika itu bisa diterima, tentu sangat tergantung pada pola pikir masing-masing.

Baru-baru ini tersiar kabar soal nama jalan tol yang menghubungkan Sigli-Banda Aceh yang saat ini sedangkan dalam pengerjaan. Nama “Sibanceh” yang sebelumnya sempat disebut-sebut sebagai nama yang akan dipakai untuk jalan itu mendapat “protes” dari Sekjen KMPAN. Menurut rekan kita, Fadhli Espece, nama Sibanceh tidak cocok sebab hanya berupa singkatan yang minus filosofi. Lalu, Espece mengusulkan agar jalan tol sepanjang 74 km itu dinamai saja dengan Jalan Hasan Tiro.

Salah satu alasan Espece karena sejauh ini tidak ada satu pun jalan di Aceh yang dinamai dengan Jalan Hasan Tiro, padahal Hasan Tiro adalah tokoh penting dalam sejarah Aceh kontemporer. Dia juga mengajukan argumen lain, bahwa Hasan Tiro adalah tokoh yang berasal dari Pidie sehingga menjadi wajar jika jalan itu dinamai dengan Jalan Hasan Tiro.

Usul ini kemudian mendapat tanggapan dari mantan Jubir Partai Aceh, Adi Laweung. Dia punya argumen lain, bahwa jalan itu telah merenggut areal hutan dan persawahan yang merupakan lapak pencaharian masyarakat Aceh. Menurut Adi Laweung, selama hidupnya Hasan Tiro selalu mengamanahkan untuk menjaga kelestarian alam sehingga penggunaan nama Hasan Tiro sebagai nama jalan menjadi tidak layak.

Setelah menyimak perbedaan pendapat antara Espece dan Adi Laweung, saya punya pikiran lain. Untuk menampung aspirasi Sekjen KMPAN, baiknya nama Hasan Tiro memang harus diadopsi sebagai salah satu nama jalan di Aceh. Namun karena jalan tol Sigli-Banda Aceh telah merenggut hutan seperti kata Adi Laweung, maka harus dipilih jalan lain.

Hasan Tiro
Sumber: Tempo, Januari 1999

Menurut saya, nama Hasan Tiro cocok dilekatkan pada jalan Medan-Banda Aceh wilayah Pantai Timur alias jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Aceh dan Medan. Ada beberapa alasan yang bisa diajukan:

Pertama, nama jalan Medan-Banda Aceh sudah terlalu tua sehingga sudah layak diperbarui, dalam hal ini nama Hasan Tiro bisa menjadi salah satu tawaran.

Kedua, jalan Medan-Banda Aceh tidak merusak hutan. Setidak-tidaknya bukan orang Aceh yang merusak, tapi oleh Belanda sebab jalan itu dibuat pada masa kolonial.

Ketiga, jalan Medan-Banda Aceh memiliki panjang lebih dari 300 km, lebih panjang dari jalan tol yang hanya 74 km. Dilihat dari perjuangan Hasan Tiro yang memakan waktu cukup panjang dari 1976-2005, maka jarak Banda Aceh ke Kuala Simpang setidak-tidaknya bisa setara dengan durasi waktu perjuangan Hasan Tiro di masa lalu.

Keempat, menjadikan jalan tol Sigli-Banda Aceh sebagai jalan Hasan Tiro hanya karena dia berasal dari Pidie justru akan menegasikan Hasan Tiro sebagai tokoh Aceh kontemporer dan hanya akan menempatkan yang bersangkutan sebagai tokoh Pidie belaka. Hal ini tentu bertentangan dengan spirit nasionalisme Aceh yang coba dibangun Hasan Tiro sehingga ia akan tergerus menjadi nasionalisme Pidie. Karena itu, mengganti nama jalan Medan-Banda Aceh dengan Hasan Tiro tentu lebih tepat sebab sepanjang jalan itulah nasionalisme Aceh ala Hasan Tiro tumbuh dan bergerak.

Saya kira demikian.

Hosting Unlimited Indonesia
Khairil Miswar
About Khairil Miswar 53 Articles
Khairil Miswar adalah Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis di beberapa media cetak seperti Serambi Indonesia, Harian Rakyat Aceh, Harian Aceh, Harian Pikiran Merdeka, Harian Analisa; dan di beberapa media online di antaranya hidayatullah.com, republika.co.id, mojok.co, AceHTrend.co, dll. Founder Bagbudig.com.