Pidato Sukarno

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Di depan cermin, di rumah kontrakannya di Surabaya, Sukarno memulai aksi teatrikalnya. Dirinya, yang tampak di hadapan cermin itu, dibayangkan sedang berpidato di depan lautan manusia. Dia melakukan hal itu, setelah menyaksikan mentornya, HOS Cokroaminato, berpidato di berbagai pertemuan politik. “Tetapi HOS Cokroaminoto berpidato dengan datar,” ujar Sukarno di depan Cindy Adams, penulis biografinya.

Sukarno ingin lebih dari itu. Dia ingin berpidato laksana gelombang; ada naik turun. Penuh nada: sekali waktu halus, tetapi tiba-tiba menggema. Tetapi, tidak hanya itu, Sukarno juga hendak memberi muatan dari setiap pidatonya. Tidak kosong melompong.

Satu kali dia bercerita tentang keagungan Nabi Muhammad. Di saat yang lain dia menjelaskan makna ibu Pertiwi. Di waktu yang berbeda, dia menceritakan tentang menjadi bangsa yang besar dari refleksinya dari kisah Ramayana, tentang Negeri Utara Kuru.

Sukarno juga paham betul soal simbol dan penanda. Pidato-pidato pentingnya dia beri judul yang mencengkram, di antaranya: Takem, Manipol Usdek, Takari, Jasmerah dan Vevire Pericoloso. Selain itu, sebagai pecinta seni, Sukarno sangat memperhatikan penampilannya. Peci, kacamata, jas dan tongkat adalah seperangkat pakaian yang hanya cocok untuknya. Bila ada yang mencoba menirukannya, malah tampak seperti badut.

Namun demikian, dalam soal pidato, Sukarno pernah gagal. Di dua tempat, Kairo dan Aceh. A. Rahman Kaoy yang menceritakan kisah kegagalan ini.

Di Kairo, dia dipersilahkan berpidato oleh teman karibnya, Gemal Abdel Nasser. Masalahnya, Sukarno tidak memahami budaya orang Arab, yang kalau sudah mengagumi seseorang, akan memberi tepuk tangan yang lama sekali. Jadi, sewaktu Sukarno membuka dengan salam, langsung dia mendapatkan sambutan dengan tepuk tangan yang gemuruh, yang membuatnya gagal untuk berpidato.

Di Aceh, lain lagi ceritanya.

Saat itu, nama Sukarno sudah beredar sebagai presiden Republik baru saja diproklamasi. Dia, diyakini yang akan membawa negara yang baru merdeka ini terbebas dari segala penjajahan. Tetapi di Aceh, orang yang paling didengar dan dihormati itu ulama. Namanya Daud Beureueh.

Satu waktu, Sukarno tiba di Aceh dan dijadwalkan memberi pidato di lapangan. Orang ramai menyemut. Tetapi riuh dan tidak tertib. Sukarno sudah berdiri di mimbar dan memberi salam. Namun, rakyat yang datang tak hirau. Ribut sekali. Melihat itu, Daud Beureueh bangkit dari tempat duduknya. Berdiri di tengah panggung, di hadapan massa yang hadir. Dia letakkan satu telunjuk di depan mulutnya. Sambil melihat ke kanan, kiri dan tengah , lalu memberi isyarat tangan untuk diam, “ssstt…, ssstt, ssstt…” Seketika, lapangan senyap. Tidak ada suara lagi sepatah pun.

Sambil melihat Sukarno, Daud Beureueh mengatakan, “Silakan saudara Presiden melanjutkan pidatonya.” Itulah mengapa — cerita A. Rahman Kaoy– setelah itu, Sukarno memanggil Daud Beureuh dengan sapaan, “Kanda.” Walau kemudian, kita tahu, cerita antara kanda dan saudara presiden itu, manisnya hanya seumur jagung.

Sukarno, disebut oleh Ong Hok Ham, dalam kacamata sarjana Barat, menjelma sebagai ratu Jawa. Itulah mengapa membuat Sjahrir harus mengkoreksi Tan Malaka dengan ucapan bahwa Sukarno sangat populer di Jawa. Konstruksi budaya politik demikianlah yang membuat setiap pidato-pidato Sukarno berdaya magis, yang kemudian menjadi tulang punggung dari narasi panjang keindonesiaan kita. Tanpa pidato-pidatonya itu, sejarah akan mencatat kisah yang lain.

Ilustrasi: Majalah Tempo

Bung Alkaf
About Bung Alkaf 19 Articles
Muhammad Alkaf adalah Mahasiswa Program Doktoral Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penulis buku Nasionalisme dari Pinggir. Dosen IAIN Langsa.