Reaksi Islam Instan dan Bahayanya Bagi Harmonisme Beragama

Cloud Hosting Indonesia
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Miswari

Charles Kimball melakukan penyederhanaan luar biasa dalam mengamati kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dia menggunakan analogi yang kurang sesuai dalam menggambarkan tindakan kekerasan yang menggunakan agama sebagai landasan. Dia menganalogikan agama dengan pistol.

Kimball bertanya: “Apakah pembunuhan makin marak karena adanya pistol atau orang yang makin jahat sehingga pembunuhan menjadi marak?”

Tentu saja pertanyaan ini akan dijawab, bahwa kekerasan menjadi semakin marak dengan banyaknya pistol, di mana pembunuhan menjadi semakin mudah. Kita tidak perlu membahas analogi itu karena memang tidak sesuai. Agama memang tidak sama dengan sebuah alat.

Persoalan kekerasan atas nama agama punya problem yang kompleks. Tampaknya Kimball belum paham apa agama itu sebenarnya.

Sebenarnya ummat Islam, baik Islam Instan maupun islam sejati, tidak akan melakukan aksi kekerasan kecuali ketika mereka diusik. Perang Sabil disuarakan karena orang Aceh kehabisan sumber semangat melawan Kolonial Belanda. Sarekat Islam bereaksi atas nama agama karena kepentingan ekonomi mereka diganggu. Masjumi menjadi getol di parlemen karena PKI memakin agresif. Umat Monas bereaksi karena Ahok dipaksakan di level tinggi politik.

Memang benar umumnya yang bereaksi, seperti Umat Monas adalah kelompok Islam Instan, yakni kelompok yang didominasi oleh mereka yang belajar  Islam di halaqah, rohis, dan pesantren kilat. Tetapi mereka juga tidak menjadi agresif apabila tidak dipancing dan diprovokasi. Ada suatu persoalan yang membuat mereka bereaksi. Intinya, meski kelompok Islam Instan sekali pun, tidak akan berekasi apabila indentitas mereka tidak diusik.

Islam sejati adalah mereka yang belajar agama secara rigid, kepada ulama mu’tabar dalam waktu lama di pondok atau dayah. Mereka tidak bersikap terlalu reaktif atas berbagai persoalan yang muncul karena mereka punya pemahaman agama yang mendalam, luas, dan sistematis. Karena itu, mereka dapat menilai dengan bijak suatu persoalan, apakah menyentuh persoalan identitas atau tidak.

Sementara kelompok Islam instan akan dengan mudah menilai suatu persoalan sebagai persoalan agama karena memang agama mereka berada di tataran permukaan. Hasilnya, setiap persoalan yang sedikit saja menyentuh masalah agama, akan membuat mereka bereaksi. Kelompok ini dapat menjadi semakin besar dan semakin agresif apabila ada pihak yang memancing mereka dengan mengusung slogan berbau simbolisme agama.

Untuk tidak memperbesar persoalan agresivisme dalam agama, hendaknya tidak ada pihak yang memancing ummat Islam Instan. Hendaknya sistem belajar agama instan seperti halaqah, rohis, pesantren kilat ditiadakan. Bila tidak, kasus-kasus kekerasan dan tindakan menyebalkan lainnya yang mengatasnamakan agama menjadi semakin parah. Bila sistem belajar agama secara instan terus dibiarkan, maka dapat mengganggu harmonisme beragama dan semakin menumbuhkan intoleransi atau bahkan dalam kondisi tertentu berpeluang memicu terorisme.

Editor: Khairil Miswar

Hosting Unlimited Indonesia
Miswari
About Miswari 14 Articles
Miswari Usman adalah Mahasiswa Program Doktor Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis buku Filsafat Terakhir. Dosen IAIN Langsa.