Sedikit Cerita tentang Buku

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Aku mulai membaca buku-buku serius mengenai pemikiran Islam semenjak semester tiga perkuliahan S 1 di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) TGK Dirundeng Meulaboh. Aku teringat, di samping aku sering mengunjungi perpustakaan, tak lupa meminjam satu atau dua buku tentang pemikiran Islam. Pernah suatu ketika, aku meminjam buku dari disertasinya pak Kautsar Azhari Noor tentang Wahdatul Wujud ibn ‘Arabi. Modalku hanya satu, yaitu rasa tertarik untuk membacanya. Walau, setibanya di kos, baru aku membaca di pendahuluannya, kepalaku langsung nyut-nyutan, bukan karena kurang makan tapi karena mumang dengan istilah-istilah yang digunakan. Tapi itu tidak membuat rasa tertarikku surut untuk terus membacanya. Aneh.

Untuk selanjutnya, aku semakin sering meminjam buku-buku pemikiran Islam dari perpustakaan kampus, Di antaranya buku karya Nurcholish Madjid atau Caknur, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial karya KH. Said Aqil Siradj, Psikologi Kematian Komaruddin Hidayat, Meraih Cinta Ilahi oleh Jalaluddin Rakhmat, Kyai Ujang di Negeri Kanguru oleh KH. Nadirsyah Hosein, Membumikan Al- Qur’an oleh Quraish Shihab, dan banyak buku lainnya, namun aku sudah lupa dengan judul-judulnya.

Bukan hanya itu, kadang juga aku meminjam buku-buku tentang filsafat. Karena di perpustakaan kampus, koleksi buku filsafat lumayan lengkap, khususnya buku-buku filsafat Barat. Seperti Filsafat Sejarah Hegel, Filsafat Pendidikan, Filsafat Umum, Filsafat Bahasa, dan banyak lagi lainnya. Jujur, sebenarnya saat membaca buku-buku itu aku pusing, tidak tahu arah pembahasannya ke mana, rasanya mutar-mutar. Tapi aku tetap tertarik dan menikmati saja alirannya.

Ketertarikanku kepada kajian filsafat sebenarnya dimulai setelah dosen filsafat kami –Pak Arsyad, memantik rasa penasaranku saat beliau menjelaskan mengenai idealisme Plato pada saat pertemuan pertama mata kuliah filsafat umum. Aku masih teringat, saat itu beliau menggambar sebuah segitiga di papan tulis. Setelah menggambar segitiga, kemudian beliau menghapusnya lalu mengatakan: “gambar segitiga sudah tidak ada lagi di papan tulis, tapi gambar itu masih ada di pikiran kita”. Setelah mendengar kalimat tersebut, seluruh badanku terasa bergetar. Aku tidak tahu kenapa, tetapi setelah itu, aku langsung teringat tentang kehidupan dan kematian. Kematian seseorang hanyalah sebatas jasad. Bukankah di jiwa pecinta, kekasihnya abadi dan selalu bersama? Walau jasad sudah tiada, tapi senyuman dan ingatan tak pernah sirna. Itulah titik awal sebagai pemantik semangatku untuk terus melakukan eksplorasi ke dunia filsafat.

Selain di perpustakaan kampus, aku juga sering berkunjung dan meminjam buku di perpustakaan daerah atau pusda. Letaknya yang tidak jauh dari kos-kosan, membuatku leluasa untuk keluar masuk di sana. Di pusda, rak favoritku adalah sastra. Posisinya yang mendukung untuk nyender karena di pojok. Di sini aku bisa menikmati berbagai macam novel, antologi, dan cerpen. Negeri 5 Menara, Laskar Pelangi, adalah penyemangat bagi seorang mahasiswa. Apalagi mahasiswa sepertiku yang hanya punya sedikit teman. Alasan utamanya ialah hobi kami berbeda, aku menyukai keluar masuk dan berlama-lama di perpustakaan, sedangkan kebanyakan mahasiswa di sini hobinya main game berjamaah dan chattingan.

Selain dua novel yang aku sebut judulnya di atas, di sini aku juga mendapatkan novel-novel yang sangat menggiurkan, seperti Suluk Syeh Siti jenar karya Agus Sunyoto, Sang Nabi karya Kahlil Gibran, Ramayana, Mahabrata, dan lainnya. Ada lagi novel dari Habiburrahman El-Shirazy seperti Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta. Ada yang mengatakan kedua novel itu adalah novel spiritual. Tapi bagiku, itu bukan novel spiritual tapi psuedo spiritual, karena sosok yang dianggap sebagai pemuda muslim ideal di situ bagiku terlalu lebay, dan hanya baru menyentuh “cangkang” spiritual dalam Islam. Tapi ketimbang pemuda yang melakukan kejahatan maka sosok pemuda dalam novel itu, sudah lumayan lah. Bagiku yang novel spiritual itu seperti Layla Majnun karya Nizami Ganjavi, Yusuf dan Zulaikha karya Abdurrahman Jami, dan Suluk Syeh Siti Jenar karya Agus Sunyoto. Satu-satunya karya Habiburrahman El-Shirazy yang pernah aku baca berulang kali hanya Pudarnya Pesona Cleopatra dan itu pun khusus pada bagian kisah Rihana, khusus di situ aku menemukan bagaimana kesetiaan itu dipraktikkan.

Di pusda, koleksi buku-buku filsafat tidak selengkap di perpustakaan kampus. Namun menariknya di sini banyak tersedia buku-buku logika. Ada sebuah buku pengantar logika yang aku putuskan untuk memfotokopi karena isinya yang sangat mudah dipahami. Di samping itu, buku-buku pemikiran Islam yang tidak tersedia di perpustakaan kampus, aku jumpai di sini, seperti buku Tuhan tak Perlu Dibela karya Gusdur, Titik Temu Agama-Agama karya Frithjof Schuon, Manusia dan alam Semesta karya Murtadha Muthahhari, Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi karya Reynold A. Nicholson, dan banyak lagi lainnya. Itulah sedikit gambaran petualanganku pada saat menjadi mahasiswa S.1 dulu.

Akhir-akhir ini, aku menemukan jiwaku lebih cocok pada dunia spiritualitas. Buku-buku yang aku baca dari awal hingga akhir umumnya buku-buku spiritual, baik itu dalam tradisi Islam seperti tasawuf maupun dalam tradisi agama-agama lain seperti Hindu, Budhha, Kong Hu Cu, dan Khatolik. Khususnya tradisi Buddhist, aku memiliki banyak koleksi buku. Kajian Buddhist sangat menarik bagiku, karena dalam tradisi Buddhist kajian utamanya ialah “mengapa ada penderitaan?, Apa sebabnya? Bagaimana melepaskannya?” Pertanyaan-pertanyaan demikian sangatlah realistis menurutku, ketimbang membahas sesuatu yang belum tentu ada, dan kalau pun ada, entah kapan kita tidak tahu.

Oh iya, jauh-jauh hari, nama Miswari sudah aku dengar. Di samping belajar di kampus, aku juga sering nongkrong bareng Pak Arsyad untuk ngobrol tentang filsafat. Setelah beberapa lama, beliau memperkenalkanku dengan seorang seniornya di Jakarta, yaitu Pak Mulyani atau lebih sering disapa Pak Azam. Nah, dari pak Azam inilah aku mulai mengetahui tentang Miswari. Sekitar akhir tahun 2019, aku membeli dua buku Miswari pada Pak Azam, yaitu buku Filsafat Pertama,, dan Islam Mazhab Tutup Botol. Buku Filsafat Pertama merupakan buku serius, setidaknya menurut pendapatku. Buku itu didominasi pembahasan logika. Buku Islam Mazhab Tutup Botol lebih mengalir, di samping banyak satire-satire, buku itu tetap menunjukkan kualitas seorang pemikir yang cemerlang. Nah, sesudah itu aku sering berkomunikasi lewat media sosial dengan Miswari, khususnya jual beli buku, bukan transaksi narkoba.

Aku baru bertemu langsung dengan sosok Miswari pada saat dia berkunjung ke Meulaboh beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri tahun ini. Aku dihadiahi dua buku keren, Teologi Terakhir dan Islam Wacana dan Inspirasi. Buku yang kedua itu telah aku “khatam” kan, dan aku lihat, buku itu adalah kelanjutan dari buku Islam Mazhab Tutup Botol. Aku sudah membaca banyak karya Miswari, Nuklir Untuk Cinta, Filsafat Pertama, Islam Mazhab Tutup Botol, Objektivikasi Islam, Filsafat Terakhir, Tasawuf Terakhir, Teologi Terakhir, artikel dan cerpennya di bagbudig.com dan normalpress.com tentu tak terlewatkan. Khususnya cerpen Yeh Mera Akela yang aku baca berulang kali. Aku tidak tahu kenapa, tapi yang jelas, satu-satunya cerpen yang aku baca berulangkali adalah Yeh Mera Akela karya Miswari.

Khususnya buku Tasawuf Terakhir adalah harta karun bagiku dari Miswari. Bagaimana tidak, biasanya kalau aku membaca, buku-buku di sampingku bukan satu, minimal ada tiga. Tapi, ketika saat aku membaca dan menamatkan buku Tasawuf Terakhir, hanya itulah satu-satunya buku yang tidak aku “duakan” ketika membacanya. Banyak hal yang aku ambil dari buku Tasawuf Terakhir, termasuk pengalaman-pengalaman yang selama ini belum bisa kubahasakan, aku dapati pembahasannya dalam buku itu. Walau Miswari dalam buku itu menggunakan nama tokoh-tokoh sufi besar dunia dan tokoh-tokoh sufi Nusantara sebagai pijakannya, namun aku tahu bahwa sebenarnya dia sedang membicarakan dirinya sendiri. Karena bagiku tak mungkin seorang pengamat mampu menghasilkan karya seperti itu. Aku menemukan kehadiran penuh Miswari dalam buku itu. Ada sebagian buku, yang mana penulisnya berjarak dengan apa yang dia tulis, biasanya buku-buku seperti itu ditulis oleh pengamat termasuk pengamat tasawuf.

Terakhir, untuk saat ini aku sedang membaca buku Bunda Teresa yang berjudul A Simple Path. Untuk kita semua, ingatlah Attar telah melewati tujuh kota cinta, dan kita masih terjebak di kota kecil ini.

Editor: Khairil Miswar

Ilustrasi: linivator

Hosting Unlimited Indonesia