Van Swieten, Pembawa Wabah Kolera ke Aceh

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pada Mei 1873, Gubernur Jenderal Loudon mengeluarkan surat tugas kepada Jenderal Mayor Verspijk untuk memimpin tentara dalam misi pendaratan kedua ke Kesultanan Aceh. Namun kemudian surat itu dicabut kembali oleh Loudon dan diberikan kepada van Swieten dengan alasan bahwa Belanda membutuhkan wakil politik dalam pendaratan ke Aceh. Salah satu alasan pemilihan van Swieten adalah karena pengalamannya yang sudah pernah mendarat di Aceh dan sukses membuat perjanjian dengan Sultan Ibrahim Mansur Syah pada tahun 1857. Meskipun usia van Swieten saat itu sudah lanjut, namun darah militer yang ada dalam tubuhnya masih dianggap cukup baik oleh Jenderal Loudon.

Van Swieten juga diyakini masih mengenal tokoh-tokoh dari Kesultanan Aceh, walaupun Sultan Mansur Syah sendiri sudah meninggal empat tahun sebelumnya. Di antara tokoh Aceh paling berpengaruh saat itu yang dikenal van Swieten adalah Panglima Polim Cut Banta. Namun pada akhirnya justru Panglima Polim inilah yang sangat anti kepada Belanda. Di kemudian hari, Panglima Polim kembali memberi perintah kepada pasukannya untuk melanjutkan Perang Sabil terhadap Belanda.

Keputusan Gubernur Jenderal taggal 6 November 1873 secara resmi menugaskan Jenderal van Swieten sebagai Panglima Perang yang akan mendarat ke Aceh. Jenderal van Swieten diberikan kuasa penuh oleh Belanda untuk menyampaikan dua hal kepada Kesultanan Aceh; mengakui kekuasaan Belanda atau diserang. Isi surat tugas itu secara tegas menyatakan bahwa tugas Jenderal van Swieten yaitu menyerang Aceh dan menaklukkan sultan, meminta sultan menandatangani pengakuan dan jika sultan tidak bersedia, van Swieten berkewajiban mengganti kedudukan sultan dengan orang lain sesuai arahan pihak Belanda.

Jenderal van Swieten bertolak ke Aceh dari Jakarta pada 16 November 1873. Jenderal van Swieten memimpin angkatan perang Belanda sebanyak 60 kapal yang terdiri dari kapal perang, kapal pengawal, kapal sipil dan kapal partikulir yang disewa. Selain kapal perang van Swieten juga turut membawa 186 perahu perang untuk memperkuat tentara Belanda di kuala Aceh. Perlengkapan lainnya terdiri dari 206 pucuk meriam serta 22 pucuk mortir. Pasukan Belanda juga dilengkapi dengan Angkatan Laut, Angkatan Darat, barisan artileri dan pasukan kaveleri (pasukan kuda). Jumlah seluruh kekuatan Belanda saat itu 12.101 orang yang terdiri dari 389 perwira, 7888 tentara, 16 pegawai sipil, 32 dokter, 3565 narapidana dan 243 perempuan. Dalam misinya ini juga turut ikut Jenderal Mayor Verspijk sebagai orang kedua setelah van Swieten dan juga beberapa militer senior Belanda.

Belanda sudah mulai menyerang Aceh pada 6 November 1873. Pasukan ini masuk melalui sungai Arakundo dan membakar rumah-rumah penduduk. Penyerangan juga dilakukan di Julok sehingga menimbulkan kerusakan hebat di sana. Saat itu pejuang Aceh kewalahan sebab armada laut Aceh sudah mulai melemah. Tujuan dari penyerangan ini adalah untuk menakuti rakyat Aceh agar mereka tidak melakukan perlawanan terhadap Belanda. Menjelang akhir November 1873 sejumlah 60 kapal yang mengangkut tentara Belanda berlabuh di perairan Aceh Besar.

Di antara kapal pengangkut pasukan Belanda dari Jakarta terdapat beberapa orang yang mengidap penyakit kolera. Tidak diketahui secara pasti apakah wabah kolera ini sengaja dibawa oleh pihak Belanda atau justru karena ketidaktahuan van Swieten bahwa ada pengidap wabah di kapal mereka. Namun demikian, kuat dugaan bahwa wabah kolera tersebut sengaja dibawa oleh Belanda ke Aceh. Salah satu alasannya bahwa penyakit tersebut sudah diketahui pihak Belanda di mana ada rombongan kapal yang terkena kolera sejak masih berada di Tanjung Priok. Saat itu kapal yang memuat pembawa wabah kolera juga tidak dikarantina.

Di perairan Aceh sendiri saat itu seluruh armada Belanda menaikkan bendera kuning sebagai tanda kapal perang sedang dilanda wabah penyakit menular. Jenderal van Swieten mengirim kawat pertama melalui Penang ke Jakarta untuk mengabarkan bahwa 77 orang awak kapal terkena kolera. Bahkan ada informasi yang menyebut bahwa seorang pengidap kolera sengaja dikuburkan di pantai Aceh untuk menularkan penyakit tersebut di sana.

Sementara itu perang pun sudah mulai berkecamuk. Jenderal van Swieten ingin segera menyampaikan surat resminya kepada Sultan Aceh pada 1 Desember 1873 yang menuntut sultan mengakui kedaulatan Belanda. Namun saat itu Belanda tidak berani mengambil risiko. Mereka juga sangat sulit menemukan utusan yang bisa dikirim kepada sultan. Akhirnya van Swieten mendaratkan pasukannya di Aceh tanpa menyampaikan pemberitahuan kepada sultan.

Van Swieten
Foto: nederlandsekrijgsmacht.nl

Setelah mengepung Aceh selama 18 hari dari tanggal 6 Januari sampai 24 Januari 1874, barulah Belanda dapat menguasai istana sultan Aceh dalam keadaan kosong. Saat itu para pejuang Aceh terpaksa mengosongkan istana karena sedang hebatnya serangan kolera dan bertujuan menyerang balik Belanda dari segala jurusan. Kontrol pemerintahan Kesultanan Aceh sudah pindah ke Lueng Bata sebelum Belanda berhasil merebut istana. Pada awalnya Sultan Aceh diungsikan kira-kira 3 km dari istana. Karena masih terancam kemudian dilakukan pengungsian ke Lam Teungoh. Tidak lama kemudian kembali berpindah ke Pagar Aye di tepi Sungai Aceh.

Saat masih berada di istana, sultan sudah terjangkit kolera. Saat itu wabah kolera sudah menyebar di istana di mana setiap harinya di dalam pekarangan istana dikuburkan lebih dari 150 orang yang meninggal karena wabah. Ketika berada di Pagar Aye, pada 28 Januari, Sultan Mahmud Syah meninggal dunia akibat wabah itu. Berita meninggalnya sultan akibat wabah kolera berkembang sangat cepat sehingga diketahui oleh van Swieten, si pembawa kolera ke Aceh. Lalu dia pun mengabarkannya ke Jakarta dan negeri Belanda.

Sumber: Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad Jilid 2.

Ilustrasi: alchetron.com

Foto: nederlandsekrijgsmacht.nl

Hosting Unlimited Indonesia
bagbudig
About bagbudig 858 Articles
Bagbudig.com adalah media diskusi antar penulis dan pemikir lintas golongan. Bagbudig.com menerima sumbangan tulisan berupa opini, ulasan buku atau catatan perjalanan. Silakan kirim ke email: bagbudig@gmail.com.